Sabtu, 27 Juni 2020

HARI KIAMAT (Perspektif Akidah ASWAJA)


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang HARI KIAMAT dalam buku yang Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya teman2 :)

HARI KIAMAT
Hari kiamat adalah kejadian luar biasa yang pada hari itu langit dan bumi dilipat serta hilangnya keteraturan seluruh alam raya ini. Meyakini adanya Hari Kiamat merupakan hal yang wajib bagi seluruh umat Islam akan terjadinya. Tanpa beriman kepada hari kiamat, iman seseorang tidak akan diterima. Sebagaimana tidak diterima apabila tidak beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan qadha qadar dariNya. Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Qs. An Nisâ' : 136).
Kewajiban mengimani Hari kiamat ini tergolong sebagai sesuatu yang maklum dlaruri (diketahui secara pasti), karena itu orang yang tidak mengimani terjadinya hari kiamat ia dikatakan sebagai orang yang tidak beriman atau kafir.
Menurut qaul shahîh, permulaan dari kiamat adalah hari Hasyr (Berkumpul) dan berakhirnya sampai waktu yang tidak ditentukan. Ada yang berpendapat bahwa kiamat berakhir sampai masuknya Penghuni surga menuju surga dan penghuni neraka menuju neraka.
Mengenai kepastian adanya Hari kiamat, Allah menegaskan dalam firman-firmanNya, diantaranya:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ ٱلْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ فَرِيقٌ فِى ٱلْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِى ٱلسَّعِيرِ
Artinya: Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummu Al (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan segolongan Jahanam. (Qs. As Syürå : 7)
وَإِذَا وَقَعَ ٱلْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَآبَّةً مِّنَ ٱلْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ ٱلنَّاسَ كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا لَا يُوقِنُونَ
Artinya: Dan apabila Perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa Sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (Qs. An Naml : 82)
Yang dimaksud dengan "Perkataan" dalam ayat di atas ialah ketentuan datangnya masa kehancuran alam. salah satu dari tandatanda kehancuran alam ialah keluarnya sejenis binatang melata yang disebut dalam ayat ini.
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ
Artinya: Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya'jüj dan Ma'jüj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (mereka berkata): "Aduhai, celakalah Kami, Sesungguhnya Kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan Kami adalah orang-orang yang zalim".(Qs. Al Anbiyå' : 96-97)
Kiamat ini terbagi menjadi dua bagian. Kiamat Sughra dan Kiamat kubra. Kiamat sughra adalah Kematian yang dialami oleh manusia. Sedangkan kiamat Kubra adalah hari pamungkas yang abadi dan tiada hari setelahnya.
Tanda-tanda Kiamat
Tanda-tanda akan terjadinya kiamat ini dijelaskan begitu banyak dalam Al Quran maupun Hadits. Bahkan sebagian dari tanda-tanda kiamat ini juga tergolong sebagai ma'lüm Dharüri.
Secara umum, tanda-tanda kiamat ini tergolong menjadi dua bagian. Pertama, tanda-tanda kiamat yang bukti kebenarannya bertendensi dari berita yang mencapai tingkat mutawâtir sehingga dapat dipastikan dan diyakini kebenarannya. Kedua, Tanda kiamat yang dalil kebenarannya hanya mencapai tahap Khabar Ahâd (individu) atau di bawah tingkat mutawâtir. Meski Keduanya sama-sama dapat dijadikan pijakan kebenaran akan terjadinya peristiwa tersebut namun secara tingkatan, bagian pertama lebih tinggi dalam tingkat kebenarannya. Bagian pertama ini mancakup 5 hal :
1.               Munculnya Dajal
2.               Turunnya Nabi Isa As bin maryam
3.               Munculnya Ya'jûj dan Ma'jûj
4.               Munculnya hewan melata yang dapat berbicara (dâbbah)
5.               Terbitnya matahari dari arah barat
Bagian kedua ini mencakup:
1.               Fitnah dahsyat yang membinasakan bangsa Arab
2.               Umat Islam akan memerangi kaum Yahudi dan mengalahkan mereka
3.               umlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki
4.               Merebaknya perzinahan dan perbuatan keji
5.               Bulan kelihatan membesar
6.               Islam menjadi asing dan mushaf Al Quran diangkat oleh Allah Swt
7.               Keringnya sungai Eufrat dan menyingkap gunung emas atau timbunan emas
8.               Munculnya pemimpin-pemimpin bodoh

Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 317-320)


NIKMAT DAN SIKSA KUBUR (Perspektif Akidah ASWAJA)


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang NIKMAT DAN SIKSA KUBUR dalam buku yang Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya teman2 :)


NIKMAT DAN SIKSA KUBUR
Hal pertama yang terjadi di alam kubur adalah kedatangan malaikat Munkar dan Nakir yang menanyakan kepada mayit tentang apa saja yang dibawa oleh Rasülullåh Saw mencakup perihal ketuhanan, agama dan kerasulan. Jika si mayit tersebut seorang mukmin yang taat maka ia akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan lancar, namun jika mayit tersebut orang munafik atau kafir maka ia akan mengalami kesulitan dan kesalahan dalam menjawabnya. sesuai dengan hadits Rasulullah yang artinya:
Sesungguhnya saat hamba diletakkan di dalam kubur dan para kawannya meninngalkannya, ia mendengar suara langkah sandal mereka dan ketika mereka bubar, datang kepadanya dua malaikat dan duduk seraya menanyakan 'tapa yang engkau ketahui tentang lelaki yang bernama muhammad?" jika ia merupakan orang mukmin, (maka ia menjawab) "aku bersaksi bahwa muhammad adalah hamba allah dan utusan-Nya". Lantas diucapkan kepadanya "lihatlah pada neraka tempat kau tinggal, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat yang berupa surga” maka ia dapat melihat terhadap dua malaikat itu Namun jika hamba tersebut orang kafir atau munafik maka ia akQn menjawab "aku tidak mengetahui aku ada di mana” lantas berkata ('al,u menjawab seperti jawaban umumnya manusia terhadap Muhammad„ maka diucapkan kepadanya "engkau tidak mengerti (tentang muhammad) dan engkau tidak menjawab” lantas ia dipukul dengan martil besi tepatnya pada bagian antara dua telinganya lantas ia menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh makhluk Yang berada di sisinya kecuali manusia dan jin”. (HR. Bukhâri)
Membenarkan dan meyakini terjadinya pertanyaan oleh dua malaikat ini adalah hal yang wajib, karena hal tersebut masih mungkin terjadi sedangkan allah berkuasa menghidupkan orang mati Dan segala sesuatu yang masih bisa diterima oleh akal dan dikuatkan dengan dalil naqli maka wajib untuk diterima. karena tidak ada pendorong untuk menanyai mayit kecuali hanya dengan mengembalikan sifat hidup terhadap juz (Anggota badan) tertentu dari mayit agar dapat memahami pertanyaan yang diajukan oleh dua malaikat. Pengembalian juz tersebut secara Dzâtiyah-nya masih tergolong sesuatu yang mungkin terjadi. Hal ini tidak dapat kita bandingkan dengan kejadian yang terjadi di dunia, sebab sesuatu yang ada di alam barzakh itu tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu yang ada di dunia ini dan tidak bisa ditolak dengan kenyataan yang ada yang berupa diamnya tubuh mayit ataupun ke-tidak kuasaan kita untuk mendengar pertanyaan malaikat kepada mayit.
Siksaan yang dialami oleh mayit itu seperti penyempitan (Tadhyîq) liang kubur, Ular besar di dalam liang Iahat, genggaman tanah kepada jasad si mayit sampai menjadi tercerai berai dan siksasiksa lain.
Sedangkan kenikmatan yang dialami mayit itu seperti perluasan (Tausî') liang kubur sampai 70 dzirâ'/hasta, pemberian lampu yang dipasang di dalam kubur untuk menerangi si mayit, memberikan wewangian di dalam kubur, menjadikan liang kubur sebagai bagian dari pertamanan surga dan kenikmatan-kenikmatan yang lain.
Siksaan dan kenikmatan yang diterima oleh ahli kubur ini langsung dapat dirasakan oleh ruh dan jasad mereka walaupun jasad mereka telah terpisah atau telah habis dimakan hewan buas atau ikan laut, sebab penyiksaan pada ruh dan jasad adalah suatu yang mungkin secara akal.

Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 315-316)

KEHIDUPAN DI ALAM BARZAKH (Perspektif Akidah ASWAJA)


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang KEHIDUPAN DI ALAM BARZAKH dalam buku yang Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya teman2 :)


KEHIDUPAN DI ALAM BARZAKH
Dari segi bahasa, "barzakh" memiliki arti "pernisah atau batas”. Para ulama' mengartikan alam barzakh sebagai periode pernisah (transisi) antara kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan di barzakh memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dunia dan akhirat Jika ditamsilkan, kehidupan di alam barzakh bagaikan berada dalarn suatu ruangan terpisah yang terbuat dari kaca. Saat menatap kearah depan, seseorang dapat melihat kondisi di hari kemudian, sedangkan menatap arah belakang, ia dapat melihat kehidupan yang ada di dunia.
Ayat-ayat dalam Al Quran yang menjelaskan hidupnya orangorang yang mati Syahid, seperti dalam ayat:
وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَن يُقْتَلُ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتٌۢ ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya. (Qs. Al Baqarah : 154)
Kehidupan dalam ayat di atas ditafsiri oleh para Ulama sebagai kehidupan di alam barzakh. Begitu juga kehidupan yang dialami oleh para Auliya' dan para Nabi.
Cukup banyak ayat Al Quran yang dijadikan tendensi utama akan adanya masa di saat manusia berada di alam barzakh, seperti ayat:
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)
Artinya: (Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada barzakh (pemisah) sampai hari mereka dibangkitkan. (Qs. Al Muminûn : 99-100)
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya: Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkanNya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?. (Qs. Al Baqarah : 28)
قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلْمُرْسَلُونَ
Artinya: Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul rasul(Nya). (Qs. Yåsin : 52)

Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 313-315)



Jumat, 26 Juni 2020

AJAL (Perspektif Akidah ASWAJA)


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang AJAL dalam buku yang Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya teman2 :)


AJAL
Kaedah utama yang menjadi pijakan tentang ajal bahwa semua makhluk di alam raya telah ditentukan ajalnya masing-masing dan mereka semua tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan waktu terjadinya ajal mereka. Dua premis ini berdasarkan pada ayat:
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
Artinya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah engetahUan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dopat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqmån : 34)
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ كِتَٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلْءَاخِرَةِ نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ
Artinya: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imrån : 145)
Dalam menanggapi ayat di atas Al Qurthubi menegaskan bahwa "ajal yang telah ditentukan" itu mencakup terhadap Kematian seseorang yang terbunuh oleh orang lain ataupun bunuh diri. Maka tidak benar jika dikatakan: "jika ia tidak dibunuh, maka ia akan tetap hidup". Sesuai dengan firman Allah Swt:
قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". tiap-tiap umat mempunyai ajal. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yünus : 49)
Kesimpulannya, menyambung tali kekerabatan menjadi şebab mendapat taufiq untuk melaksanakan amal-amal ketaatan dan melindungi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dengan den-ıikian saat ia meninggal, ia meninggalkan nama yang harum dan pujian yang baik. Pada saat itulah ia seakan-akan belum mati, meskipun jasadnya sudah mati. la seakan-akan belum mati karena masyarakat masih senantiasa mengenang keshalihan amalnya dan kemuliaan akhlaknya.
Makna kedua, mengartikan hadits riwayat Imâm Bukhâri di ataş sesuai dengan maknanya yang hakiki yaitu penambahan umur secara nyata. Misalnya, ketika diandaikan Allah Swt memerintah kepada malaikat pencatat usia manusia: "Umur Si Fulan adalah 100 tahun jika ia menyambung tali kekerabatannya, dan 60 tahun jika ia tidak menyambung tali kekerabatannya".
Sementara itü Allah dengan ilmuNya yang azali telah mengetahui apakah si fulan tersebut akan menyambung tali kekerabatannya ataukah ia akan memutusnya.Jadi, menurut ilmu azali yang dimiliki oleh Allah Swt, umur si fulan tersebut tidak bertambah dan tidak berkurang sedikit pum Adapun menurut ilmu yang dimiliki oleh malaikat pencatat usia manusia, umur si Fulan tersebut bisa bertambah atau berkurang.
Penjelasan seperti ini telah diisyaratkan oleh firman Allah Swt:
يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ
Artinya: "Allah menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan di sisi-Nya terdapat ummul kitab (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Ar Ra'du : 39)
Makna ketiga, mengutip pendapat Imâm Al Faurak, yang dimaksud dengan penambahan umur dalam hadits-hadits di atas adalah Allah Swt akan menyingkirkan berbagai macam musibah yang berbahaya untuk pikiran dan akal orang yang melakukan amal kebajikan (yaitu menyambung tali kekerabatan).
Sebagian ulama lainnya menyatakan berbagai macam musibah yang disingkirkan tersebut bersifat umum, tidak sebatas musibah yang mengancam pikiran dan akal pikiran orang yang melakukan amal kebajikan. Selain itu, ia juga bermakna turunnya keberkahan atas rezeki, ilmunya dan hal-hal lainnya.

Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 310-313)


RUH (Perspektif Akidah ASWAJA)


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang RUH dalam buku yang Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya teman2 :)


RUH
Ruh adalah dzat murni yang tinggi, hidup dan hakikatnya berbeda dengan hakikat tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan panca indera, sedangkan ruh menyelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air di dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecahpecah, untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh ini mampu menerimanya.
Selain itu, ruh merupakan hakikat dari manusia yang dengannya manusia dapat hidup dan mengetahui segala sesuatu. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa Allah Swt meniupkan ruh ke dalam tubuh nabi adam As. Untuk membuatnya menjadi hidup, seperti dalam ayat:
سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
Artinya: Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Qs. As Sajdah : 9)
Keterangan Iain dalam Al Quran yang menjelaskan tentang ruh adalah saat Allah Swt meniupkan ruh ke dalam rahim Maryam sehingga ia mengandung Nabi Isa As. Hal ini ditegaskan dalam ayat:
وَمَرْيَمَ ٱبْنَتَ عِمْرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتْ مِنَ ٱلْقَٰنِتِينَ
Artinya: Dan (ingatlah) Maryam binti İmran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan KitabKitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat. (Qs. At Tahrîm : 12)
Menurut İbn Qayyim Al Jauziyah, manusia terdiri dari dua unsur yakni jasad atau raga dan ruh atau jiwa. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, maksudnya saat jasad mengalami Kematian, maka ruh juga akan mati selamanya. Namun menurutnya ada satu unsur dari manusia yang tidak dapat mati bersama dengan jasad dan ruh, unsur itü adalah nafs nâthiqah yang biasa dikenal dengan akal. Unsur tersebut tak dapat hancur dikarenakan unsur tersebut masih mengandung unsur İlahi. Berdasarkan pendapat ini, maka ruh bukan termasuk hal yang qadim karena jiwa tak akan berfungsi tanpa adanya jasad, lagi pula jiwa hanya merupakan kesempurnaan utama bagi jasad.

Ruh sendiri terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, Sulthaniyyah yang bertempat di hati. Kedua, Ruhaniah yang memiliki titik pusat di sekitar dada. Dan yang ketiga, yaitu Jasmaniah yang berada diantara daging dan darah juga di antara tulang dan otot-otot.
Ketika seseorang sedang tidur, maka yang keluar dari jasadnya bukan keseluruhan dari tiga jenis ruh di ataş, tapi hanya ruh jasmaniyyahnya saja. Ruh jasmaniyyahnya keluar bersama akal dan berkeliling antara langit dan bumi, jika akal bersama ruh jasmani maka seorang hamba tersebut akan mengerti dan memahami terhadap sesuatu yang ia lihat dalam mimpi, dan jika akal tidak menyertai ruh jasmaniyyahnya maka seseorang tersebut tetap bisa melihat mimpikan tetapi ia tidak faham terhadap apa yang ia lihat dalam mimpinya.
Istilah lain yang senada dengan kata ”ruh” meski dalarn Istilah lain yang senada dengan kata hakikatnya berbeda adalah kata ”sukma” atau dalam istilah arabnya dikenal dengan kata ”rawwan”. Dua istilah di atas adalah dua hal Yang berbeda. Ruh tidak dapat keluar dan masuk kembali pada jasad manusia yang masih hidup, sedangkan sukma dapat keluar dan masuk pada jasad manusia yang hidup, ketika sukma keluar maka manusia menjadi tak sadarkan diri meski sejatinya ia masih hidup, saat ia kembali sadar maka sukmanya kembali kepada jasadnya Jagi. Namun saat ruh keluar dari jasad manusia maka secara langsung ia mati.
Semua penjabaran tentang ruh yang telah dijelaskan di atas hanya sebatas pendekatan sebagian Ulama. Sedangkan untuk menjelaskan hakikat yang sejati dari ruh, mayoritas Ulama Ahlussunnah wal jama'ah memilih untuk bersikap diam dan tidak mau ikut campur dalam membahasnya. Karena ruh sejatinya adalah urusan Allah Swt yang tidak diketahui oleh siapapun selain-Nya. Seperti tercantum dalam ayat:
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ”Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Qs. Al Isra: 85)

Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 308-310)

HARI KIAMAT (Perspektif Akidah ASWAJA)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca d...