Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya
sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini
Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang AJAL dalam buku yang
Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya
teman2 :)
AJAL
Kaedah utama yang menjadi
pijakan tentang ajal bahwa semua makhluk di alam raya telah ditentukan ajalnya
masing-masing dan mereka semua tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan
waktu terjadinya ajal mereka. Dua premis ini berdasarkan pada ayat:
إِنَّ
ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى
ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى
نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ
Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya
pada sisi-Nya sajalah engetahUan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang
menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun
yang dopat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan
tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Luqmån : 34)
وَمَا
كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ كِتَٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَمَن
يُرِدْ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلْءَاخِرَةِ
نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ
Artinya: “Sesuatu yang bernyawa tidak
akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan
waktunya”. (QS. Ali Imrån : 145)
قُل
لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى ضَرًّا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ
لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً
ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: Katakanlah: "Aku
tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada
diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". tiap-tiap umat mempunyai
ajal. apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”. (QS. Yünus : 49)
Kesimpulannya, menyambung
tali kekerabatan menjadi şebab mendapat taufiq untuk melaksanakan amal-amal
ketaatan dan melindungi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dengan
den-ıikian saat ia meninggal, ia meninggalkan nama yang harum dan pujian yang
baik. Pada saat itulah ia seakan-akan belum mati, meskipun jasadnya sudah mati.
la seakan-akan belum mati karena masyarakat masih senantiasa mengenang
keshalihan amalnya dan kemuliaan akhlaknya.
Sementara itü Allah dengan
ilmuNya yang azali telah mengetahui apakah si fulan tersebut akan menyambung
tali kekerabatannya ataukah ia akan memutusnya.Jadi, menurut ilmu azali yang
dimiliki oleh Allah Swt, umur si fulan tersebut tidak bertambah dan tidak
berkurang sedikit pum Adapun menurut ilmu yang dimiliki oleh malaikat pencatat
usia manusia, umur si Fulan tersebut bisa bertambah atau berkurang.
Penjelasan seperti ini telah
diisyaratkan oleh firman Allah Swt:
يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا
يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ
Artinya: "Allah
menghapus apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan apa yang dikehendaki-Nya dan
di sisi-Nya terdapat ummul kitab (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Ar Ra'du : 39)
Makna ketiga, mengutip pendapat Imâm Al
Faurak, yang dimaksud dengan penambahan umur dalam hadits-hadits di atas adalah
Allah Swt akan menyingkirkan berbagai macam musibah yang berbahaya untuk
pikiran dan akal orang yang melakukan amal kebajikan (yaitu menyambung tali
kekerabatan).
Sebagian ulama lainnya
menyatakan berbagai macam musibah yang disingkirkan tersebut bersifat umum,
tidak sebatas musibah yang mengancam pikiran dan akal pikiran orang yang
melakukan amal kebajikan. Selain itu, ia juga bermakna turunnya keberkahan
atas rezeki, ilmunya dan hal-hal lainnya.
Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI
Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 310-313)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar