Jumat, 26 Juni 2020

RUH (Perspektif Akidah ASWAJA)


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang RUH dalam buku yang Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya teman2 :)


RUH
Ruh adalah dzat murni yang tinggi, hidup dan hakikatnya berbeda dengan hakikat tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan panca indera, sedangkan ruh menyelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air di dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecahpecah, untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh ini mampu menerimanya.
Selain itu, ruh merupakan hakikat dari manusia yang dengannya manusia dapat hidup dan mengetahui segala sesuatu. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa Allah Swt meniupkan ruh ke dalam tubuh nabi adam As. Untuk membuatnya menjadi hidup, seperti dalam ayat:
سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
Artinya: Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Qs. As Sajdah : 9)
Keterangan Iain dalam Al Quran yang menjelaskan tentang ruh adalah saat Allah Swt meniupkan ruh ke dalam rahim Maryam sehingga ia mengandung Nabi Isa As. Hal ini ditegaskan dalam ayat:
وَمَرْيَمَ ٱبْنَتَ عِمْرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتْ مِنَ ٱلْقَٰنِتِينَ
Artinya: Dan (ingatlah) Maryam binti İmran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan kalimat Rabbnya dan KitabKitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang taat. (Qs. At Tahrîm : 12)
Menurut İbn Qayyim Al Jauziyah, manusia terdiri dari dua unsur yakni jasad atau raga dan ruh atau jiwa. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, maksudnya saat jasad mengalami Kematian, maka ruh juga akan mati selamanya. Namun menurutnya ada satu unsur dari manusia yang tidak dapat mati bersama dengan jasad dan ruh, unsur itü adalah nafs nâthiqah yang biasa dikenal dengan akal. Unsur tersebut tak dapat hancur dikarenakan unsur tersebut masih mengandung unsur İlahi. Berdasarkan pendapat ini, maka ruh bukan termasuk hal yang qadim karena jiwa tak akan berfungsi tanpa adanya jasad, lagi pula jiwa hanya merupakan kesempurnaan utama bagi jasad.

Ruh sendiri terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, Sulthaniyyah yang bertempat di hati. Kedua, Ruhaniah yang memiliki titik pusat di sekitar dada. Dan yang ketiga, yaitu Jasmaniah yang berada diantara daging dan darah juga di antara tulang dan otot-otot.
Ketika seseorang sedang tidur, maka yang keluar dari jasadnya bukan keseluruhan dari tiga jenis ruh di ataş, tapi hanya ruh jasmaniyyahnya saja. Ruh jasmaniyyahnya keluar bersama akal dan berkeliling antara langit dan bumi, jika akal bersama ruh jasmani maka seorang hamba tersebut akan mengerti dan memahami terhadap sesuatu yang ia lihat dalam mimpi, dan jika akal tidak menyertai ruh jasmaniyyahnya maka seseorang tersebut tetap bisa melihat mimpikan tetapi ia tidak faham terhadap apa yang ia lihat dalam mimpinya.
Istilah lain yang senada dengan kata ”ruh” meski dalarn Istilah lain yang senada dengan kata hakikatnya berbeda adalah kata ”sukma” atau dalam istilah arabnya dikenal dengan kata ”rawwan”. Dua istilah di atas adalah dua hal Yang berbeda. Ruh tidak dapat keluar dan masuk kembali pada jasad manusia yang masih hidup, sedangkan sukma dapat keluar dan masuk pada jasad manusia yang hidup, ketika sukma keluar maka manusia menjadi tak sadarkan diri meski sejatinya ia masih hidup, saat ia kembali sadar maka sukmanya kembali kepada jasadnya Jagi. Namun saat ruh keluar dari jasad manusia maka secara langsung ia mati.
Semua penjabaran tentang ruh yang telah dijelaskan di atas hanya sebatas pendekatan sebagian Ulama. Sedangkan untuk menjelaskan hakikat yang sejati dari ruh, mayoritas Ulama Ahlussunnah wal jama'ah memilih untuk bersikap diam dan tidak mau ikut campur dalam membahasnya. Karena ruh sejatinya adalah urusan Allah Swt yang tidak diketahui oleh siapapun selain-Nya. Seperti tercantum dalam ayat:
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ”Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Qs. Al Isra: 85)

Sumber: KH. Maimoen Zubair. 2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS (halaman 308-310)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HARI KIAMAT (Perspektif Akidah ASWAJA)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger, semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca d...