Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Kembali lagi dengan Asmaji_Blogger,
semoga semuanya sehat dan tetap semangat dalam membaca dan mencari ilmu. Kali
ini Asmaji_Blogger akan sedikit berbagi informasi tentang RUH dalam buku yang
Asmaji_Blogger punya, data buku ada di akhir penulisan, silahkan dibaca ya
teman2 :)
RUH
Ruh
adalah dzat murni yang tinggi, hidup dan hakikatnya berbeda dengan hakikat
tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan panca indera, sedangkan ruh menyelusup ke
dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air di dalam bunga, tidak larut dan tidak
terpecahpecah, untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh ini mampu
menerimanya.
Selain
itu, ruh merupakan hakikat dari manusia yang dengannya manusia dapat hidup dan
mengetahui segala sesuatu. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa Allah Swt meniupkan
ruh ke dalam tubuh nabi adam As. Untuk membuatnya menjadi hidup, seperti dalam
ayat:
سَوَّىٰهُ
وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ
وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
Artinya: Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya
roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Qs. As Sajdah : 9)
Keterangan Iain dalam Al Quran yang menjelaskan tentang ruh adalah saat
Allah Swt meniupkan ruh ke dalam rahim Maryam sehingga ia mengandung Nabi Isa
As. Hal ini ditegaskan dalam ayat:
وَمَرْيَمَ
ٱبْنَتَ عِمْرَٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا
وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتْ مِنَ ٱلْقَٰنِتِينَ
Artinya:
Dan (ingatlah) Maryam binti İmran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami
tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan Dia membenarkan
kalimat Rabbnya dan KitabKitabNya, dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang
taat. (Qs. At Tahrîm : 12)
Menurut İbn Qayyim Al Jauziyah,
manusia terdiri dari dua unsur yakni jasad atau raga dan ruh atau jiwa.
Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, maksudnya saat
jasad mengalami Kematian, maka ruh juga akan mati selamanya. Namun menurutnya
ada satu unsur dari manusia yang tidak dapat mati bersama dengan jasad dan ruh,
unsur itü adalah nafs nâthiqah yang biasa dikenal dengan akal. Unsur tersebut
tak dapat hancur dikarenakan unsur tersebut masih mengandung unsur İlahi.
Berdasarkan pendapat ini, maka ruh bukan termasuk hal yang qadim karena jiwa
tak akan berfungsi tanpa adanya jasad, lagi pula jiwa hanya merupakan kesempurnaan
utama bagi jasad.
Ruh sendiri
terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, Sulthaniyyah yang bertempat di hati.
Kedua, Ruhaniah yang memiliki titik pusat di sekitar dada. Dan yang ketiga,
yaitu Jasmaniah yang berada diantara daging dan darah juga di antara tulang dan
otot-otot.
Ketika seseorang sedang tidur, maka yang keluar dari jasadnya bukan
keseluruhan dari tiga jenis ruh di ataş, tapi hanya ruh jasmaniyyahnya saja.
Ruh jasmaniyyahnya keluar bersama akal dan berkeliling antara langit dan bumi,
jika akal bersama ruh jasmani maka seorang hamba tersebut akan mengerti dan
memahami terhadap sesuatu yang ia lihat dalam mimpi, dan jika akal tidak
menyertai ruh jasmaniyyahnya maka seseorang tersebut tetap bisa melihat mimpikan
tetapi ia tidak faham terhadap apa yang ia lihat dalam
mimpinya.
Istilah lain yang senada dengan kata ”ruh” meski dalarn Istilah
lain yang senada dengan kata hakikatnya berbeda adalah kata ”sukma” atau dalam
istilah arabnya dikenal dengan kata ”rawwan”. Dua istilah di atas adalah dua
hal Yang berbeda. Ruh tidak dapat keluar dan masuk kembali pada jasad manusia
yang masih hidup, sedangkan sukma dapat keluar dan masuk pada jasad manusia
yang hidup, ketika sukma keluar maka manusia menjadi tak sadarkan diri meski
sejatinya ia masih hidup, saat ia kembali sadar maka sukmanya kembali kepada
jasadnya Jagi. Namun saat ruh keluar dari jasad manusia maka secara langsung ia
mati.
Semua penjabaran tentang ruh yang telah dijelaskan di atas hanya sebatas
pendekatan sebagian Ulama. Sedangkan untuk menjelaskan hakikat yang sejati dari
ruh, mayoritas Ulama Ahlussunnah wal jama'ah memilih untuk bersikap diam dan
tidak mau ikut campur dalam membahasnya. Karena ruh sejatinya adalah urusan
Allah Swt yang tidak diketahui oleh siapapun selain-Nya. Seperti tercantum
dalam ayat:
وَيَسْـَٔلُونَكَ
عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ
ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ”Roh
itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit”. (Qs.
Al Isra: 85)
Sumber: KH. Maimoen Zubair.
2016. MENGHAYATI Agama, Islam dan Aswaja. Kediri: LIBROYO PRESS
(halaman 308-310)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar