KEUNIKAN TRADISI GUNTING RAMBUT PADA ANAK KETURUNAN KERAJAAN ISLAM KUBU DI DESA KUBU KABUPATEN KUBU RAYA
Pada zaman sekarang ini, masih banyak tradisi yang tetap dipertahankan secara turun temurun dari nenek moyang hingga ke anak cucu pada suatu masyarakat. Hal ini juga terjadi di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan barat.
Di antara tradisi yang masih ada di masyarakat Desa Kubu adalah tradisi gunting rambut terhadap anak bayi keturunan dari raja Kubu. Dalam pelaksanannya keluarga atau orang tua bayi tersebut membuat rumah yang keseluruhannya terbuat dari tebu, yang mana mereka menyebutnya sebagai “Rumah Tebu”. Kemudian dibutuhkan juga 40 macam jenis kue yang diletakkan di dalam rumah tebu tersebut hinggan ke depan pintu rumah, kemudian perlengkapan lain seperti pokok telok (pohon telur), kelapa muda, kalung emas, gunting, breteh (beras kuning), tepung tawar dan uang logam.
Dalam pelaksanannya tradisi ini diawali dengan pembacaan al-Barzanji, kemudian rambut bayi diikat dengan benang dan setiap ikatan diberi daun pandan dan jumlah ikatan sesuai dengan jumlah orang yang akan memotong rambut anak tersebut. Setelah selesai maka bayi di tuntun berjalan dari atas rumah tebu menuju pintu depan sambil menginjak kue-kue yang telah disusun menuju pintu tersebut. Setelah itu, baru kue tersebut dimakan oleh masyarakat dan sekalian penaburan breteh yang sudah dicampur dengan uang logam yang diperebutkan oleh anak-anak. Selanjutnya bayi dibawa keluar dan sebelum menggunting rambut membaca doa singka untuk anak tersebut. Kemudian dilaksanakan gunting rambut dan yang menggunting rambut anak tersebut masing-masing diberikan pokok telok, setelah itu barulah membaca doa bersama-sama.
Di antara tradisi yang masih ada di masyarakat Desa Kubu adalah tradisi gunting rambut terhadap anak bayi keturunan dari raja Kubu. Dalam pelaksanannya keluarga atau orang tua bayi tersebut membuat rumah yang keseluruhannya terbuat dari tebu, yang mana mereka menyebutnya sebagai “Rumah Tebu”. Kemudian dibutuhkan juga 40 macam jenis kue yang diletakkan di dalam rumah tebu tersebut hinggan ke depan pintu rumah, kemudian perlengkapan lain seperti pokok telok (pohon telur), kelapa muda, kalung emas, gunting, breteh (beras kuning), tepung tawar dan uang logam.
Dalam pelaksanannya tradisi ini diawali dengan pembacaan al-Barzanji, kemudian rambut bayi diikat dengan benang dan setiap ikatan diberi daun pandan dan jumlah ikatan sesuai dengan jumlah orang yang akan memotong rambut anak tersebut. Setelah selesai maka bayi di tuntun berjalan dari atas rumah tebu menuju pintu depan sambil menginjak kue-kue yang telah disusun menuju pintu tersebut. Setelah itu, baru kue tersebut dimakan oleh masyarakat dan sekalian penaburan breteh yang sudah dicampur dengan uang logam yang diperebutkan oleh anak-anak. Selanjutnya bayi dibawa keluar dan sebelum menggunting rambut membaca doa singka untuk anak tersebut. Kemudian dilaksanakan gunting rambut dan yang menggunting rambut anak tersebut masing-masing diberikan pokok telok, setelah itu barulah membaca doa bersama-sama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar